Rusia Kehilangan Hampir 40.000 Personel pada Juni 2026, Ukraina Klaim Serangan Moskow Mulai Melambat

0
1783242387251-1

RAKYAT BERDAULAT – Rusia dilaporkan kehilangan hampir 40.000 personel militer sepanjang Juni 2026 di tengah melambatnya laju operasi ofensif di Ukraina. Di saat yang sama, serangan drone dan rudal yang dilakukan Ukraina diklaim berhasil menghambat pergerakan pasukan Moskow di sejumlah wilayah garis depan.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan perkembangan tersebut menunjukkan strategi pertahanan yang dijalankan Kyiv mulai memberikan hasil di medan perang.

“Jika Putin ingin mengirim satu juta tentaranya lagi untuk terus melawan tembok ini, maka satu juta warga Rusia yang belum dimobilisasi harus memikirkan apa yang menanti mereka selanjutnya,” ujar Zelenskyy, seperti dikutip Al Jazeera, Sabtu (4/7/2026).

Zelenskyy juga merujuk pada estimasi yang menyebut total korban di pihak Rusia sejak perang dimulai telah mencapai sekitar 1,4 juta personel. Angka tersebut merupakan klaim dari pihak Ukraina dan belum dapat diverifikasi secara independen.

Berdasarkan data militer Ukraina, Rusia kehilangan sekitar 39.490 personel selama Juni 2026. Jumlah tersebut disebut melampaui estimasi kemampuan Rusia merekrut personel baru yang diperkirakan berkisar antara 24.000 hingga 30.000 prajurit setiap bulan.

Pemerintah Ukraina menilai tingginya angka korban tersebut menjadi salah satu faktor yang memperlambat laju serangan Rusia dalam beberapa pekan terakhir. Selain itu, serangan drone jarak jauh yang menyasar infrastruktur militer dan logistik Rusia diklaim turut menghambat mobilisasi pasukan.

Hingga berita ini diterbitkan, pemerintah Rusia belum memberikan tanggapan resmi terkait klaim terbaru yang disampaikan Ukraina mengenai jumlah korban personel maupun dampak operasi militernya.

Perang Rusia-Ukraina yang telah berlangsung sejak Februari 2022 terus memicu korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta ketegangan geopolitik global. Berbagai laporan mengenai korban dari kedua belah pihak sering kali berbeda karena masing-masing negara menggunakan metode perhitungan sendiri, sementara verifikasi independen di medan perang masih sangat terbatas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *