Pemerintah Gandeng UGM Kembangkan Benih Kedelai Lokal, Perkuat Swasembada Pangan dan Kurangi Ketergantungan Impor

0
1783240347695-1

RAKYAT BERDAULAT – Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat langkah menuju swasembada pangan nasional dengan menggandeng Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam pengembangan benih kedelai lokal unggul. Program ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

Benih kedelai lokal yang dikembangkan UGM memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya berstatus non-genetically modified organism (non-GMO) serta memiliki ukuran biji yang lebih besar dibandingkan sebagian kedelai impor. Pengembangan tersebut merupakan bagian dari Program Smart Agricultural Enterprise (SAE) Kedelai yang telah dirintis sejak 2012.

Melalui program tersebut, tim peneliti UGM membangun ekosistem kedelai secara terintegrasi dari hulu hingga hilir. Program tidak hanya berfokus pada peningkatan produktivitas, tetapi juga mencakup penyediaan benih bersertifikat, pendampingan kepada petani, pemanfaatan teknologi Internet of Things (IoT), hingga menjalin kemitraan dengan industri sebagai off-taker guna menjamin penyerapan hasil panen.

Pendampingan telah dilakukan di sejumlah sentra pertanian, antara lain Kabupaten Grobogan, Bantul, Kulon Progo, Sukoharjo, dan Sragen. Pendekatan tersebut bertujuan meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat kapasitas pengetahuan dan keterampilan petani dalam menerapkan teknologi pertanian modern.

Salah satu terobosan penting dalam program tersebut adalah pemberian kepastian pasar melalui kemitraan dengan CV Java Agro Prima sebagai off-taker industri. Pada 2026, hasil panen petani binaan berhasil memenuhi standar sertifikasi keamanan pangan, sehingga memiliki daya saing yang lebih tinggi di pasar.

Dosen Fakultas Teknologi Pertanian UGM sekaligus anggota tim peneliti, Dr. Atris Suyantohadi, menjelaskan bahwa pengembangan ekosistem kedelai merupakan implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu menghadirkan riset yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

“Harapannya, hasil-hasil hilirisasi dari hulu ke hilir ini benar-benar dapat dirasakan masyarakat. Pada akhirnya masyarakatlah yang akan memberikan penilaian terhadap manfaatnya,” ujar Atris.

Komitmen pemerintah terhadap pengembangan kedelai lokal juga ditunjukkan melalui pertemuan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dengan tim peneliti UGM pada 29 Juni 2026 di Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, Kementerian Pertanian menyatakan siap mengadopsi hasil riset karya anak bangsa tanpa menunggu proses kerja sama administratif yang panjang.

“Ini kita langsung tindak lanjuti, bukan MoU, tetapi langsung kita beli karya-karya putra terbaik bangsa yang ada di UGM. Langsung kita beli dan kemudian kita kawal bersama,” kata Menteri Pertanian.

Sebagai langkah awal, pemerintah akan mengawal uji coba pengembangan kedelai pada lahan seluas 1.000 hingga 2.000 hektare di wilayah Jawa Tengah. Pendampingan serupa juga akan dilakukan terhadap komoditas bawang putih sebagai bagian dari strategi mempercepat pemanfaatan hasil riset nasional di sektor pertanian.

Pemerintah berharap sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, pelaku usaha, dan petani mampu memperkuat ketahanan pangan nasional, meningkatkan produksi kedelai dalam negeri, mengurangi ketergantungan impor, serta mendukung terwujudnya visi Indonesia Emas 2045 melalui kemandirian pangan yang berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *