Korban Sipil di Intan Jaya Bertambah, Ibu Hamil Tewas Tertembak; Warga Gelar Aksi Damai Desak Evaluasi Keamanan
INTAN JAYA – Situasi keamanan di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, kembali menjadi sorotan setelah bertambahnya korban sipil dalam rangkaian konflik bersenjata yang terjadi pada awal Juli 2026. Seorang ibu hamil bernama Melkiana Duwitau dilaporkan meninggal dunia akibat luka tembak, sementara sebelumnya seorang pendeta muda, Elianus Agimbau, juga ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan.
Peristiwa yang menimpa Melkiana Duwitau terjadi pada Kamis (2/7/2026) di Kampung Wandoga, Distrik Sugapa. Korban yang sedang mengandung tujuh bulan dilaporkan berada di dalam honai (rumah adat) saat sebuah peluru menembus dinding bangunan dan mengenainya. Melkiana mengalami luka tembak di bagian bahu.
Tim medis sempat berupaya menyelamatkan nyawa korban beserta bayi yang dikandungnya melalui tindakan operasi darurat. Namun, upaya tersebut tidak berhasil sehingga ibu dan bayi yang dikandungnya dinyatakan meninggal dunia.
Sebelumnya, pada 29 Juni 2026, seorang pendeta muda bernama Elianus Agimbau ditemukan meninggal dunia di kawasan semak-semak Kampung Mbamogo. Berdasarkan informasi yang beredar dari sejumlah pihak, tubuh korban ditemukan dengan beberapa luka tembak serta luka lainnya.
Dalam keterangan yang disampaikan keluarga, Elianus saat itu tengah berjalan menuju Sugapa bersama adiknya untuk mengurus pencairan dana kampung. Sang adik berhasil menyelamatkan diri dan kemudian melaporkan peristiwa tersebut kepada warga.
Selain dua korban tersebut, seorang pemuda bernama Okto Sani Tigau juga dilaporkan meninggal dunia dalam insiden berbeda. Informasi yang berkembang menyebutkan korban ditemukan dengan luka tembak. Hingga kini, berbagai informasi mengenai kronologi ketiga peristiwa tersebut masih memerlukan penyelidikan lebih lanjut oleh aparat yang berwenang.
Rangkaian peristiwa itu memicu aksi damai ribuan warga di Sugapa pada 3–4 Juli 2026. Dalam aksi tersebut, masyarakat menyampaikan keprihatinan atas terus berulangnya kekerasan yang menimpa warga sipil serta menyerukan agar konflik segera dihentikan demi terciptanya keamanan dan perdamaian di Papua.
Direktur Aliansi Demokrasi untuk Papua, Latifah Anum Siregar, menilai situasi keamanan di Intan Jaya perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Ia menyampaikan pandangannya mengenai dampak konflik terhadap masyarakat sipil dan pembangunan di wilayah tersebut.
Sementara itu, Ketua Komnas HAM Perwakilan Papua, Frits Ramandey, menyatakan bahwa dugaan penyerangan terhadap warga sipil harus diusut secara menyeluruh. Ia mendorong dilakukannya evaluasi terhadap tata kelola keamanan di Papua guna mencegah terulangnya peristiwa serupa.
Di sisi lain, Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai, juga meminta seluruh aparat keamanan yang bertugas di Papua untuk mengedepankan profesionalisme, perlindungan terhadap warga sipil, serta penghormatan terhadap hak asasi manusia.
Hingga berita ini ditulis, aparat keamanan belum menyampaikan keterangan resmi yang secara khusus menjelaskan penyebab maupun pihak yang bertanggung jawab atas seluruh rangkaian insiden tersebut. Situasi di sejumlah wilayah Intan Jaya dilaporkan masih menjadi perhatian karena konflik bersenjata antara aparat keamanan dan kelompok bersenjata masih berlangsung.
Berbagai kalangan berharap penyelidikan yang independen, transparan, dan akuntabel dapat segera dilakukan agar fakta peristiwa terungkap secara menyeluruh. Masyarakat juga menyerukan penyelesaian konflik melalui pendekatan yang mengutamakan dialog, perlindungan warga sipil, penegakan hukum, serta penghormatan terhadap hak asasi manusia demi terwujudnya perdamaian yang berkelanjutan di Papua.
