Kementan Kawal Komitmen Pelaku Usaha Perunggasan Stabilkan Harga Ayam Hidup, Target Rp19.500 per Kilogram

0
1783239294382

RAKYAT BERDAULAT – Kementerian Pertanian (Kementan) terus mempercepat upaya stabilisasi harga ayam hidup (livebird) di Jawa Barat dengan menggandeng perusahaan perunggasan terintegrasi dan peternak mandiri. Langkah ini dilakukan sebagai respons atas penurunan harga ayam hidup di tingkat peternak yang berdampak pada menurunnya pendapatan pelaku usaha budidaya broiler.

Upaya tersebut diawali melalui Rapat Koordinasi dan Penggalangan Komitmen Stabilisasi Harga Ayam Hidup yang digelar Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak di Cirebon, Kamis (2/7/2026). Pertemuan tersebut melibatkan perusahaan-perusahaan perunggasan serta pelaku usaha budidaya broiler dari wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan (Ciayumajakuning).

Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementerian Pertanian, Hary Suhada, menegaskan bahwa stabilitas industri perunggasan hanya dapat diwujudkan apabila seluruh pelaku usaha memiliki komitmen yang sama dalam menjaga keseimbangan produksi dan pasar.

“Kementerian Pertanian mengajak seluruh pelaku usaha membangun komitmen bersama dalam menjaga keseimbangan produksi dan pasar. Stabilitas harga hanya dapat terwujud apabila seluruh pihak menjalankan kesepakatan secara konsisten dan mengedepankan kepentingan bersama,” ujar Hary.

Dalam forum tersebut, seluruh peserta menyepakati sejumlah langkah strategis, antara lain penataan jadwal panen agar pasokan tidak menumpuk pada waktu yang sama, pengendalian distribusi Day Old Chick (DOC), penghentian praktik saling menjatuhkan harga (price dumping), serta peningkatan transparansi data stok ayam melalui koordinasi yang lebih intensif.

Kesepakatan tersebut kemudian diperkuat melalui penandatanganan komitmen bersama oleh seluruh peserta sebagai bentuk keseriusan dalam memulihkan harga ayam hidup di tingkat peternak.

Melalui komitmen tersebut, harga ayam hidup di Jawa Barat ditargetkan meningkat secara bertahap hingga mencapai Rp19.500 per kilogram paling lambat 15 Juli 2026, sebelum bergerak menuju Harga Acuan Pembelian (HAP) yang telah ditetapkan pemerintah.

Perwakilan PT Japfa Comfeed Indonesia/Ciomas, Hariyono, menyatakan pihaknya siap mendukung penuh kesepakatan tersebut.

“Sesuai kesepakatan bersama, kami usahakan pada minggu depan harga mulai stabil sesuai target. Maksimal tanggal 15 Juli 2026 harga sudah berada di kisaran Rp19.500 per kilogram,” ujarnya.

Dukungan serupa disampaikan Perwakilan PT Charoen Pokphand Indonesia, Deasy Natalia. Menurutnya, keberhasilan pemulihan harga sangat bergantung pada konsistensi seluruh pelaku usaha dalam menjalankan komitmen yang telah disepakati bersama.

Sebagai tindak lanjut, pada Jumat (3/7/2026), Kementerian Pertanian melakukan pemantauan langsung ke sejumlah kandang peternak mandiri di Kabupaten Bogor guna memastikan kondisi di lapangan sekaligus menyerap aspirasi peternak.

Hasil pemantauan menunjukkan harga ayam hidup mulai mengalami kenaikan, namun masih berada pada kisaran Rp13.500 per kilogram, atau masih jauh di bawah tingkat harga yang dinilai mampu memberikan keuntungan yang layak bagi peternak.

Di Farm Hari Irawan, Kecamatan Ciampea, ayam berbobot sekitar 1,2 kilogram dijual pada kisaran Rp16.000 hingga Rp17.000 per kilogram dengan kapasitas kandang mencapai 130.000 ekor. Sementara itu, di Farm Haji Muslihin Imat, Doso Sentul, Cijujung, Sukaraja, ayam berbobot 1,5 hingga 1,6 kilogram masih dipasarkan pada kisaran Rp13.500 hingga Rp14.500 per kilogram dengan populasi sekitar 16.000 ekor.

Selain memantau perkembangan harga, Kementan juga mendorong penguatan sektor hilir melalui pembangunan Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) bagi peternak berskala besar yang belum memiliki fasilitas tersebut. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi usaha, memperluas akses pasar, memberikan nilai tambah, serta menjadi salah satu solusi dalam menjaga stabilitas harga ayam hidup.

Hary Suhada menegaskan bahwa keberhasilan program stabilisasi harga tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga memerlukan peran aktif perusahaan-perusahaan terintegrasi dalam membina peternak mitra maupun peternak mandiri.

“Kami meminta perusahaan-perusahaan terintegrasi terus merangkul peternak mandiri, memberikan pendampingan, serta mengedukasi agar tidak melakukan spekulasi pasar yang justru dapat menghambat upaya stabilisasi harga yang sedang dibangun bersama,” tegasnya.

Kementerian Pertanian memastikan akan terus melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap perkembangan produksi, stok, serta harga ayam hidup di berbagai daerah. Melalui sinergi antara pemerintah, perusahaan perunggasan, dan peternak, diharapkan harga ayam hidup dapat segera pulih sehingga keberlanjutan industri perunggasan nasional tetap terjaga dan kesejahteraan peternak semakin meningkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *