BNPB Bangun Jembatan Rp14,6 Miliar dan Sumur Bor di NTT, Komitmen Pulihkan Infrastruktur Pascasiklon Seroja
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkuat komitmen percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur pascabencana di Nusa Tenggara Timur (NTT). Salah satu langkah yang disiapkan adalah pembangunan jembatan permanen dengan nilai sekitar Rp14,6 miliar untuk memulihkan konektivitas masyarakat yang terdampak Siklon Tropis Seroja.
Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto dengan Wakil Gubernur NTT Irjen Pol (Purn.) Drs. Johni Asadoma, M.Hum., di Kantor BNPB, Jakarta, Selasa (14/7).
Dalam pertemuan tersebut, Johni Asadoma yang didampingi Wakil Bupati Alor Rocky Winaryo menyampaikan kebutuhan mendesak masyarakat NTT, khususnya wilayah yang masih menghadapi dampak kerusakan infrastruktur akibat bencana.
Johni menegaskan, kunjungan tersebut tidak hanya bertujuan menyampaikan usulan pembangunan, tetapi juga memastikan kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak mendapat perhatian pemerintah pusat.
“Saya melihat langsung kondisi di Alor. Masih ada beberapa jembatan yang putus akibat Seroja. Bagi masyarakat, jembatan ini merupakan urat nadi yang menghubungkan antarwilayah. Ketika musim hujan tiba, akses transportasi terputus dan aktivitas masyarakat lumpuh,” ujar Johni usai audiensi.
Jembatan Rusak Hambat Aktivitas Masyarakat
Dampak Siklon Tropis Seroja terhadap NTT tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik pada infrastruktur. Terputusnya sejumlah jembatan dan ruas jalan turut menghambat mobilitas masyarakat serta distribusi berbagai kebutuhan.
Kondisi tersebut berdampak terhadap aktivitas ekonomi, distribusi logistik, akses pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga pelayanan pemerintahan.
Kerusakan infrastruktur juga menjadi tantangan bagi proses pemulihan berbagai layanan dasar. Infrastruktur jalan dan jembatan yang belum sepenuhnya pulih dapat menyulitkan akses menuju wilayah-wilayah tertentu, terutama ketika kondisi cuaca kembali memburuk.
Karena itu, pembangunan kembali infrastruktur secara permanen menjadi salah satu kebutuhan utama untuk memastikan masyarakat dapat kembali beraktivitas secara normal dan memiliki konektivitas yang lebih kuat.
BNPB Siapkan Jembatan dan Sumur Bor
Selain pembangunan jembatan, BNPB juga menyatakan kesiapan mendukung penyediaan infrastruktur dan sarana penanganan kebutuhan dasar masyarakat.
Dukungan tersebut mencakup pembangunan sumur bor di wilayah yang rawan mengalami kekeringan, bantuan mobil tangki air, perahu bermotor untuk kawasan kepulauan, kendaraan operasional kebencanaan, serta paket logistik berupa tenda keluarga dan perlengkapan darurat lainnya.
Kepala BNPB memastikan pembangunan jembatan akan dikoordinasikan bersama TNI Angkatan Darat agar proses pelaksanaan dapat berjalan lebih efektif dan cepat.
Sinergi antarlembaga menjadi faktor penting dalam percepatan pemulihan, mengingat kondisi geografis NTT yang terdiri atas banyak wilayah kepulauan dengan tantangan akses transportasi yang cukup kompleks.
Tiga Jembatan Alor Jadi Prioritas Usulan
Pemerintah Kabupaten Alor mengusulkan pembangunan tiga jembatan yang mengalami kerusakan akibat Siklon Seroja.
Ketiga jembatan tersebut adalah Jembatan Pido di Alor Tengah Laut, Jembatan Kalunan di Mataru, dan Jembatan Nule di Pantar.
Usulan pembangunan tersebut telah diajukan melalui BNPB kepada Kementerian Keuangan dan masih dalam proses pembahasan.
Selain pembangunan jembatan, Pemerintah Kabupaten Alor juga mengusulkan dukungan pembangunan 12 sumur bor untuk mengatasi persoalan kekeringan. Pemerintah daerah turut meminta bantuan mobil tangki air dan perahu cepat untuk mendukung kebutuhan masyarakat di wilayah kepulauan.
Berbagai usulan tersebut diharapkan dapat mempercepat pemulihan sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana dan kondisi darurat di masa mendatang.
BNPB Pastikan NTT Tetap Mendapat Perhatian
Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto menegaskan bahwa pemerintah pusat terus memperhatikan kebutuhan masyarakat NTT.
“Kami memahami berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat NTT dan akan terus memberikan dukungan. Selama menjadi kewenangan BNPB akan kami bantu. Yang menjadi kewenangan kementerian lain akan kami koordinasikan agar penanganannya bisa lebih cepat,” ujar Suharyanto.
Pernyataan tersebut menunjukkan pentingnya koordinasi lintas kementerian dan lembaga dalam menangani kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
Tidak semua kebutuhan pemulihan berada dalam kewenangan BNPB. Karena itu, koordinasi dengan kementerian, lembaga, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten menjadi bagian penting agar penanganan dapat dilakukan secara terpadu.
Keterbatasan Fiskal Jadi Tantangan Pembangunan
Johni Asadoma menjelaskan bahwa keterbatasan kemampuan fiskal daerah menjadi salah satu alasan Pemerintah Provinsi NTT terus memperkuat komunikasi dengan pemerintah pusat.
“APBD Provinsi NTT sekitar Rp1,3 triliun tentu sangat terbatas dibandingkan kebutuhan pembangunan yang begitu besar. Karena itu, kami terus membangun komunikasi dengan pemerintah pusat agar pembangunan di NTT tetap menjadi prioritas nasional,” katanya.
Kondisi tersebut menggambarkan tantangan pembangunan di daerah yang memiliki wilayah geografis luas dan karakter kepulauan.
Dukungan pemerintah pusat menjadi penting untuk mempercepat pembangunan infrastruktur strategis, terutama yang berkaitan langsung dengan konektivitas masyarakat, akses pelayanan dasar, dan pemulihan ekonomi pascabencana.
BNPB Tekankan Tata Kelola Bantuan yang Akuntabel
Dalam pertemuan tersebut, Kepala BNPB juga mengingatkan pentingnya pengelolaan bantuan pascabencana secara profesional, transparan, dan akuntabel.
“Tata kelola yang bersih dan akuntabel adalah kunci keberlanjutan dukungan pusat untuk masyarakat NTT,” pesan Suharyanto.
Pesan tersebut menjadi bagian penting dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi. Pengelolaan bantuan yang tepat sasaran akan memastikan setiap dukungan pemerintah benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat terdampak.
Dengan pembangunan infrastruktur yang dilakukan secara terencana dan tata kelola bantuan yang baik, proses pemulihan diharapkan dapat berjalan lebih efektif.
Komitmen pembangunan jembatan permanen dan dukungan sumur bor menjadi harapan baru bagi masyarakat NTT yang masih menghadapi dampak kerusakan infrastruktur dan persoalan akses air bersih.
Pemulihan infrastruktur tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menghidupkan kembali aktivitas ekonomi, membuka akses pendidikan dan kesehatan, memperlancar distribusi logistik, serta menghubungkan kembali masyarakat antardaerah.
Sinergi antara pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi NTT, pemerintah kabupaten, TNI, dan seluruh pemangku kepentingan diharapkan dapat mempercepat proses pemulihan.
Dengan dukungan yang tepat sasaran dan tata kelola yang akuntabel, NTT diharapkan mampu bangkit lebih kuat dari dampak bencana serta membangun infrastruktur yang lebih tangguh dalam menghadapi potensi bencana di masa depan.
