Harga BBM Non Subsidi Resmi Turun 1 Juli 2026, Pertamax Turbo Kini Rp19.300 per Liter

0
IMG-20260703-WA0006(1)

RAKYAT BERDAULAT – PT Pertamina Patra Niaga resmi menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi mulai 1 Juli 2026. Penyesuaian harga ini berlaku untuk Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex setelah harga minyak mentah dunia mengalami penurunan signifikan sepanjang Juni 2026.

Penurunan harga dipicu oleh membaiknya kondisi geopolitik global, terutama setelah meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran serta kembali dibukanya Selat Hormuz sebagai jalur utama distribusi minyak dunia. Kondisi tersebut mendorong harga minyak mentah dunia terkoreksi sekitar 18,62 persen sehingga memberikan ruang bagi penyesuaian harga BBM nonsubsidi di Indonesia.

Berdasarkan daftar harga terbaru untuk wilayah Jabodetabek, Pertamax Turbo kini dijual Rp19.300 per liter dari sebelumnya Rp20.750 per liter. Dexlite turun dari Rp23.000 menjadi Rp19.700 per liter, sedangkan Pertamina Dex turun dari Rp24.800 menjadi Rp21.150 per liter.

Vice President Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, mengatakan penyesuaian harga dilakukan melalui evaluasi berkala sesuai mekanisme yang berlaku dengan mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia, kondisi fiskal pemerintah, daya beli masyarakat, serta stabilitas ekonomi nasional.

Di sisi lain, harga BBM subsidi tidak mengalami perubahan. Pertalite tetap dijual Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter. Sementara itu, Pertamax (RON 92) masih bertahan di Rp16.250 per liter dan Pertamax Green 95 tetap Rp17.000 per liter.

Pengamat ekonomi menilai turunnya harga minyak dunia belum sepenuhnya dapat diteruskan ke harga BBM domestik karena masih dipengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Selain itu, kebijakan produksi negara-negara OPEC+ serta kondisi geopolitik global juga menjadi faktor penting dalam pembentukan harga energi.

Ekonom Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Dyah Titis Kusuma Wardani, menyebut pembukaan kembali Selat Hormuz memberikan sentimen positif bagi rantai pasok energi global. Namun, menurutnya harga BBM Indonesia tetap dipengaruhi oleh berbagai indikator ekonomi, termasuk kurs rupiah.

Pendapat serupa disampaikan pakar ekonomi Universitas Airlangga, Imron Mawardi. Ia menilai ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak membuat fluktuasi nilai tukar rupiah menjadi salah satu faktor utama yang menentukan biaya pengadaan BBM nasional.

Apabila harga minyak dunia tetap stabil dan nilai tukar rupiah menguat dalam beberapa bulan mendatang, peluang penurunan harga BBM nonsubsidi masih terbuka. Sebaliknya, jika terjadi kembali gejolak geopolitik atau pelemahan rupiah, ruang penyesuaian harga diperkirakan akan menjadi lebih terbatas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *