AirAsia Hentikan 36 Rute Penerbangan di Indonesia, Kapasitas Kursi Anjlok Drastis Akibat Lonjakan Harga Avtur
JAKARTA – Indonesia AirAsia resmi menghentikan operasional 36 rute penerbangan domestik dan internasional sebagai bagian dari strategi optimalisasi jaringan di tengah meningkatnya tekanan biaya operasional, terutama akibat lonjakan harga bahan bakar pesawat (avtur).
Kebijakan tersebut berdampak signifikan terhadap kapasitas penerbangan maskapai. Data industri menunjukkan kapasitas kursi Indonesia AirAsia mengalami penurunan tajam sepanjang 2026, mencerminkan penyesuaian besar dalam operasional perusahaan.
Berdasarkan data OAG Aviation, rata-rata kapasitas kursi bulanan Indonesia AirAsia yang pada 2025 masih berada di kisaran 36.000 kursi kini menyusut menjadi sekitar 5.400 kursi pada Juni 2026. Penurunan semakin terasa setelah maskapai menghentikan sejumlah rute strategis, termasuk penerbangan nonstop Singapura–Bali pada April 2026.
Mulai 1 Juli 2026, Indonesia AirAsia juga menghentikan layanan penerbangan langsung Jakarta–Singapura. Akibatnya, penumpang kini harus melakukan perjalanan melalui Kuala Lumpur sehingga waktu tempuh meningkat dari kurang dua jam menjadi lebih dari sepuluh jam.
CEO AirAsia X Group, Bo Lingam, menjelaskan bahwa keputusan tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk mengoptimalkan jaringan penerbangan dengan mengalihkan kapasitas armada ke rute-rute yang memiliki permintaan lebih tinggi dan tingkat keuntungan yang lebih baik.
Selain strategi bisnis, tingginya harga avtur yang dipengaruhi ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah turut menjadi faktor utama yang mendorong penyesuaian operasional maskapai.
Analis penerbangan Brendan Sobie menilai penghentian rute Jakarta–Singapura berpotensi mengurangi daya saing AirAsia pada salah satu jalur penerbangan tersibuk di Asia Tenggara. Penumpang diperkirakan akan beralih ke maskapai lain yang masih menawarkan penerbangan langsung dengan waktu tempuh lebih singkat.
Meski demikian, AirAsia Group menegaskan bahwa langkah efisiensi tersebut bersifat sementara. Perusahaan akan terus memantau perkembangan harga minyak dunia serta kondisi pasar sebelum secara bertahap memulihkan frekuensi penerbangan dan kapasitas armada.
Manajemen menargetkan pemulihan operasional secara bertahap hingga kapasitas kembali meningkat apabila kondisi pasar membaik dan harga energi dunia mulai stabil.
Ke depan, pemulihan jaringan penerbangan Indonesia AirAsia sangat bergantung pada perkembangan harga minyak dunia dan stabilitas geopolitik global. Jika tekanan biaya mulai mereda, maskapai berpeluang membuka kembali sejumlah rute yang saat ini dihentikan. Sebaliknya, apabila harga avtur tetap tinggi, strategi efisiensi diperkirakan masih akan menjadi pilihan utama perusahaan untuk menjaga keberlanjutan bisnis.
