Lia Koto: Prabowo Bicara Kontroversial, Blunder atau Strategi Pemetaan Barisan?
JAKARTA — Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang kerap memunculkan kontroversi dan menjadi pemberitaan luas kembali mendapat sorotan. Pengamat dan pengguna media sosial memiliki beragam tafsir terhadap gaya komunikasi Presiden, termasuk pandangan bahwa pernyataan kontroversial tersebut dapat menjadi bagian dari strategi politik dan komunikasi publik.
Pandangan tersebut disampaikan Lia Koto melalui sebuah tulisan yang beredar di media sosial. Ia mempertanyakan apakah sejumlah pernyataan Prabowo yang dinilai “ngawur” atau menimbulkan kontroversi benar-benar merupakan kesalahan komunikasi, atau justru bagian dari strategi untuk melihat respons publik dan peta dukungan politik.
Menurut Lia, hampir setiap pernyataan kontroversial Presiden Prabowo dengan cepat menjadi headline media. Kondisi tersebut dinilai memberikan keuntungan dari sisi eksposur karena nama dan narasi yang disampaikan Presiden terus menjadi perhatian publik.
“Pak Prabowo bicara suka ngawur dan blunder itu sengaja. Udah pernah gua tulis, omongan Pak PS selalu jadi headline. Itu strategi marketing gratis,” tulis Lia Koto.
Ia berpendapat bahwa Prabowo bukan sosok yang tidak memahami konsekuensi dari pernyataannya. Latar belakang Prabowo sebagai mantan perwira militer, pengusaha, serta tokoh politik yang telah beberapa kali mengikuti kontestasi pemilihan presiden dinilai membuatnya memahami risiko dan dampak komunikasi di ruang publik.
Dalam analisisnya, Lia menyebut kontroversi dapat dimanfaatkan untuk melihat bagaimana berbagai kelompok merespons sebuah pernyataan.
“Ini bukan bodoh, itu pemetaan barisan,” tulisnya.
Menurut Lia, ketika sebuah pernyataan menjadi kontroversi dan memicu perdebatan, tim politik dapat mengamati siapa yang memberikan dukungan, siapa yang mengkritik, dan siapa yang memilih diam.
Ia kemudian menggunakan istilah “feint attack” dalam konteks strategi militer untuk menggambarkan dugaan pola tersebut. Dalam strategi militer, feint merupakan gerakan tipu atau serangan pengalihan yang dimaksudkan untuk menguji atau mengalihkan perhatian lawan.
Dalam konteks politik, Lia menganalogikan pernyataan kontroversial sebagai cara untuk memancing reaksi berbagai kelompok sekaligus mempertahankan perhatian publik terhadap narasi yang sedang dibangun.
Ia juga membandingkan gaya komunikasi Prabowo dengan mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dikenal kerap menggunakan pernyataan kontroversial sebagai bagian dari komunikasi politiknya.
Menurut Lia, kontroversi dapat membuat perhatian publik dan media tetap tertuju kepada seorang pemimpin. Dalam kondisi tersebut, isu yang berkaitan dengan sang pemimpin terus menjadi bahan pembicaraan tanpa harus mengeluarkan biaya promosi konvensional.
“Sekali ngomong, satu Indonesia ribut, gratis marketing 24 jam,” tulisnya.
Lia kemudian merangkum pandangannya dalam tiga poin, yakni Prabowo dinilai memahami panggung politik, kontroversi dianggap dapat digunakan untuk memancing respons sekaligus memetakan dukungan, dan pemberitaan yang terus muncul membuat narasi tentang Presiden tetap menjadi perhatian publik.
Namun, pandangan tersebut merupakan analisis dan opini Lia Koto, bukan fakta yang telah terkonfirmasi mengenai strategi komunikasi Presiden Prabowo atau keputusan internal tim politiknya.
Perdebatan mengenai gaya komunikasi Presiden pun menunjukkan bagaimana pernyataan pejabat publik di era media sosial dapat dengan cepat berubah menjadi isu nasional. Satu pernyataan dapat dipotong, disebarkan, dikomentari, dan menjadi bahan perdebatan di berbagai platform dalam waktu singkat.
Pada akhirnya, apakah kontroversi tersebut merupakan blunder komunikasi atau strategi yang disengaja tetap menjadi ruang perdebatan publik. Yang jelas, setiap pernyataan Presiden memiliki konsekuensi politik dan komunikasi yang dapat memengaruhi persepsi masyarakat.
Tulisan Lia Koto tersebut menjadi salah satu perspektif yang mencoba membaca fenomena tersebut dari sisi strategi politik dan komunikasi publik.
