Home » Profil » Zoya Dianaesthika Amirin, MPsi, FIAS Psikolog Seksual

Zoya Dianaesthika Amirin, MPsi, FIAS Psikolog Seksual

Monday, January 11th 2016. | Profil
Zoya Amirin, Psikolog Seksual, Seksolog, universitas Indonesia

Zoya Amirin Foto : Twitter

Rakyatberdaulat.com, Jakarta –   Menjadi seorang psikolog seksual adalah pilihannya. Ia berani mengklaim dirinya sebagai satu-satunya psikolog yang berkonsentrasi pada masalah seksual.

“Banyak memang yang menangani khusus masalah seksual, tetapi kebanyakan berasal dari profesi dokter, bukan psikolog seperti saya. Boleh dibilang saya adalah satu-satunya psikolog yang khusus menangani masalah seksual,” katanya di Kenny Rogers Roasters, Ground Floor, Pejaten Village, Jakarta Selatan.

Ia memilih jalur menjadi psikolog seksual bukan tanpa alasan. Menurutnya, hingga saat ini, masih banyak orang yang menganggap bahwa seks adalah hal yang tabu untuk dibicarakan. Padahal seks dan seksualitas adalah sebuah pengetahuan. ”Kalaupun ada yang menganggapnya gimana-gimana, itu berarti yang bersangkutan yang punya pikiran porno,” ujarnya.

Tumbuh dalam budaya dalam mana masyarakatnya tidak punya banyak informasi tentang seks adalah alasan utama ia memilih jurusan psikologi dalam jenjang perguruan tinggi. Pilihannya itu ternyata sempat dipertanyakan oleh Amirin, ayahnya. Ia masih ingat bahwa saat itu ayahnya berpesan agar ia memiliki karier yang dapat diandalkan, sehingga ia tidak bergantung pada orang lain.

Dimulai dengan Pertanyaan

Zoya merupakan sulung dari tiga bersaudara dari pasangan Amirin dan Sylvia Rosalina Rauw. Lahir pada 7 September 1975. ”Papa-Mama saya adalah role model buat saya. Saya melihat bagaimana mereka menunjukkan kepada saya dan kedua adik lelaki saya dalam membangun sebuah hubungan keluarga atas nama cinta,” ungkapnya.

Hubungannya dengan kedua orang tuanya sangat dekat. Bahkan hingga saat ini. Ia masih ingat baik bagaimana ia diajak ayahnya ke Toko Buku Gramedia. Di situ, ia membeli buku yang ia suka. ”Makanya kenapa sekarang saya jadi senang membaca. Ini pengalaman menyenangkan. Ayah dan Opa juga senang mendongengi saya cerita, baik dari buku maupun mengarang sendiri,” sambungnya.

Ia mengenyam pendidikan dasarnya di SD Yayasan Bakti Tugas, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Pendidikan menengah pertamanya ia tempuh di SMP Strada Marga Mulya, Pejaten, Jakarta Selatan. Setelah itu, ia masuk SMA Santo Fransiskus Asisi, Tebet, Jakarta Selatan.

Lulus dari SMA, pada tahun tahun 1994, ia masuk Univeritas Katolik Atmajaya, Jakarta. Ia memilih jurusan Psikologi. Namun, ia hanya bertahan sampai pada tahun kedua lantaran sudah diterima di Universitas Indonesia pada jurusan yang sama. “Saya memang bercita-cita bisa masuk perguruan tinggi negeri karena biayanya jauh lebih murah. Apalagi dengan bendera UI,” katanya.

Mengapa jurusan psikologi? Karena ketika ia beranjak remaja, ibunya tidak bisa menjawab beberapa pertanyaan pentingnya. “Misalnya, kenapa setelah menstruasi pertama datang, timbul rasa kangen dan tertarik pada cowok? Mengapa perempuan mengalami menstruasi dan laki-laki mimpi basah? Saya ingin tahu semuanya beserta penjelasan logisnya,” ungkapnya.

Pertanyaan-pertanyaannya itu baru bisa terjawab setelah ia belajar psikologi seksual pada Prof. Dr. Sarlito Sarwono. Ia kemudian menulis skripsi yang berhubungan dengan perilaku seksual. Dari riset untuk skripsi itu, ia akhirnya tahu bahwa ternyata ada profesi terapis seksual di luar negeri.

Setelah ia lulus, Prof. Sarlito menawarinya untuk menjadi asisten dosen kelas Perilaku Seksual. Ketika kali pertama mengajar mata kuliah itu, ia menyuruh setiap mahasiswanya untuk membeli alat kontrasepsi berupa kondom dan membuat artikel mengenai kondom itu. Dengan cara itu, ia ingin membuka wawasan mahasiswanya terkait kondom bahwa bukanlah legalitas untuk melakukan hubungan seksual pranikah. “Itu satu-satunya mata kuliah yang mahasiswanya enggak pada bolos,” katanya.

Mendalami Psikologi Seksual

Pada tahun 2000, ia menikah dengan Joe Hakim Nova Jusung,  yang kini sudah menjadi mantan suaminya. Ia menikah menjelang lulus kuliah. Pada saat itu, ia menjalani tiga kehidupan, yakni kehidupan keluarga, pendidikan S2, dan pekerjaan sebagai asisten dosen.

Dengan bertambahnya ilmu, ia memutuskan untuk membangun karier profesionalnya dalam bidang psikologi seksual. Setelah lulus S1 pada tahun 2002, ia mengambil program S2 bidang Klinis Dewasa di Fakultas Psikologi UI. Kemudian melengkapi kemampuannya dengan mengikuti berbagai short course di luar negeri.

Oleh Prof. Sarlito, ia diperkenalkan kepada Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila dari Universitas Udayana, Bali. Selanjutnya, ia bergabung dengan Asosiasi Seksologi Indonesia. “Tahun 2004, saya ambil basic study seksologi dan pada tahun 2010, saya ambil advanced sexology. Semacam pendidikan intensif seksologi lanjutan di Universitas Udayana. Lulus dari sana, saya bergelar FIAS (Fellow Indonesian Association Sexologist). Tersertifikasi. Semuanya berhubungan dengan perilaku seksual. Makanya tesis saya juga tentang perilaku seksual,” jelasnya.

Setelah mengantongi berbagai sertifikasi, ia mulai mengalihkan konsentrasinya dari menjadi psikolog biasa menjadi psikolog seksual. “Kalau sebelumnya saya hanya praktik sebagai psikolog, setelah lulus tingkat lanjutan, saya mulai praktik sebagai psikolog seksual. Namun, sebelum resmi jadi psikolog seksual, saya sudah banyak menerima klien yang berhubungan dengan perilaku seksual,” lanjutnya.

Pada tahun 2002, Prof. Sarlito “menceburkannya” menjadi narasumber tentang mitos dan seks dalam sebuah bincang-bincang di televisi swasta. Sejak itu pula, ia berada dalam pusaran kontroversi isu seksualitas di Indonesia. Kendati begitu, ia baru menegaskan pilihan kariernya setelah menyelesaikan sertifikasi seksologi di Universitas Udayana, Bali. “Tanpa Prof. Sarlito, Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila dari Universitas Udayana, dan dr. Pramudya dari Rumah Sakit Angkatan Laut dr. Mintohardjo, karier saya tidak akan secepat ini,” katanya.

Kuliah S3

Orang yang hanya tahu namanya kerap tak percaya bahwa ia adalah seorang psikolog, apalagi seorang seksolog. “Calon klien justru lebih percaya staf saya adalah psikolog dan seksolog. Orang masih membayangkan bahwa seorang psikolog itu harus tua, bertampang serius, berkacamata, dan tidak fashionable,” kata perempuan yang sedang merajut kasih dengan pria keturunan asing bernama Christopher Charmona ini sambil tertawa.

Dulu, ketika masih kecil, ia sebenarnya punya cita-cita menjadi seorang arsitek. Ia senang sekali melihat miniatur rumah yang dibangun saudaranya yang berprofesi sebagai desainer interior. Meskipun demikian, ia tidak menyesal. “Saya sangat bahagia dengan pekerjaan saya sekarang. I have the most sexiest job in the world,” imbuhnya.

Saat ini, ia ingin melanjutkan studinya ke jenjang S3. Pilihannya adalah Weidener University, Pennsylvania, Amerika Serikat. Jurusannya adalah Human Sexuality. Ia sudah mendapat sponsor untuk biaya riset dan kuliahnya nanti. “Sekarang saya lagi buat sebuah riset yang rencananya mau mengukur kepuasan seksual dan produktivitas individu pada usia aktif sebagai pilot project bahan proposal saya untuk diajukan ke Weidener University,” ungkapnya.

Ia sempat mengikuti sertifikasi seksologi klinis dalam konferensi atau Summer & Winter Institute dari AASECT (American Association of Sex Educator, Counselor & Therapist). Dalam setahun itu ada dua kali konferensi di Washington University di St. Louis, Missouri, Amerika Serikat. “Saya juga sedang mengumpulkan 1000 jam conference. Setelah itu, saya bisa mendapatkan izin praktik di USA,” katanya.

Dirikan Sinergi Daya Insani

Tahun 2007 merupakan tahun tersulit dalam kehidupannya. Ia mengalami masalah pelik dalam rumah tangganya hingga berujung pada perceraian. Selain menghadapi masalah rumah tangga, ia juga harus menghadapi masalah keuangan.

Setelah bercerai dengan Joe Hakim Nova Jusung, ia harus mengambil posisi sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab atas semua kebutuhan hidup keluarganya. Belum lagi ia juga harus membagi konsentrasinya untuk masa pemulihan terhadap kedua adik lelakinya, Carlo Ponti Amirin dan Marki Xristmathias Amirin, yang terkena narkoba dan terjangkit HIV. “Papa dan Mama saya sudah tua dan tak lagi bekerja. Kedua adik saya butuh penanganan dan perhatian khusus dari saya. Karena yang satu terkena narkoba berat dan satunya lagi juga terkena HIV karena narkoba juga,” ungkapnya.

Untuk mengatasi masalah itu, bersama ketiga orang temannya, Tity Mulya, Moehammad Hoessien, dan Yulianti, ia mendirikan  Sinergi Daya Insani, konsultan psikologi dan SDM. Lantaran semua ide dan konsep datang dari buah pikirannya, ia berperan sebagai pendiri. Sejak didirikan, SDI sudah berjalan selama 8 tahun. Silaen

Mendunia Lewat Website

Di Indonesia, nama Zoya mungkin belum dikenal secara luas sebagai psikolog seksual. Tapi, di beberapa kantor berita asing, namanya cukup dikenal. Itu terjadi setelah dia gencar berpromosi lewat dunia maya.

Tujuan utama ia meluncurkan situs yang disebutnya sebagai situs pertama tentang pendidikan seks di Indonesia itu adalah ingin dikenal sebagai psikolog seksual dan memberikan pendidikan seksualitas secara lebih luas kepada masyarakat.

Sebelumnya, pendidikan seks ia berikan melalui konsultasi atau seminar. Sesekali ia juga melakukan road show bersama Komunitas Kajian Perilaku Seksual (KP2S) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) ke sekolah-sekolah atau ke tempat lain seperti di penjara anak-anak. “Kalau sebagai pembicara, saya harus tunduk kepada tema.

Sedangkan melakukan road show memerlukan biaya besar, yang saya tidak bisa selalu memenuhinya. Akhirnya, saya hanya menunggu ada sponsor, baru saya jalan. Saya tidak mau begitu terus,” sambungnya.

Ia bersyukur karena website itu membuat namanya kian dikenal. Sejumlah produk maupun perusahaan juga bersedia untuk mensponsorinya, antara lain, dua brand kondom lokal. Beberapa hari setelah dirilis, sekitar 1.000 orang per hari yang mengunjungi website-nya. Pengunjungnya semakin membeludak menjadi sekitar 2.000 orang per hari saat ia merilis podcast-nya yang memampang dirinya tengah membicarakan masalah-masalah seputar seksualitas dengan Chantal Della Concetta, teman akrabnya itu.

Pengunjung website-nya semakin lama semakin banyak. Yang mendaftar menjadi anggota juga konsisten naik. Berkat situs dan podcast-nya, ia menjadi pemberitaan di luar negeri melalui sejumlah kantor berita seperti Al Jazeera, Daily Telegraph, atau Associated Press (AP). “Sejak podcast saya launching di web, sepuluh hari setelah web rilis, banyak media asing yang menghubungi saya. Beberapa di antara mereka bahkan datang langsung untuk wawancara dengan saya,” ceritanya.

Berkat sorotan dari pers asing itulah, pengunjung web-nya tidak hanya berasal dari Indonesia. Banyak yang berasal dari negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, atau Singapura, maupun yang jauh seperti Australia dan Inggris. Itu diketahui dari e-mail yang diterimanya.  “Mereka juga meminta saya untuk membuat web saya bisa diakses dalam bahasa Inggris. Tapi itu masih belum ada dalam bayangan saya. Saya ingin memberikan pendidikan seks kepada orang Indonesia dulu,” katanya. Silaen

Sempat Dianggap Bintang Porno

Parasnya cantik. Kulitnya putih dan bersih. Dan penampilannya selalu menarik. Itulah Zoya. Namun, semua itu, dalam hubungannya dengan profesinya sebagai psikolog seksual, bagaikan buah simalakama. “Seperti menerima berkah dan kutukan sekaligus,” ujarnya.

Ia sebut ”kutukan” karena tidak sedikit teman, kenalan, atau klien yang menanggapi pekerjaannya dengan tatap sinis. “Wow, seksolog. Kehidupan seksnya seperti apa, ya?” kata rekan-rekannya.

Tak jarang pula kliennya yang dengan sengaja mengajaknya ‘macam-macam’ dengan kedok konseling. Juga kerap dijadikan bahan fantasi kliennya. Ketika ia memberi pendidikan seksual kepada para narapidana di penjara laki-laki, ia disoraki. “Bayangkan, saya disorakin. Rasanya seperti bintang film porno,” keluhnya.

Pengalaman-pengalaman itu membuatnya lebih peka terhadap kliennya. Ia selalu mengingatkan mereka sebelum memulai konseling bahwa hubungan mereka hanya akan berada dalam ranah profesional. “Bahkan ada teman yang bilang, ‘Jadi Zoya enak, ya. Ngomong jorok, dibayar pula’,” katanya sambil tertawa. Silaen

Related For Zoya Dianaesthika Amirin, MPsi, FIAS Psikolog Seksual

Comment For Zoya Dianaesthika Amirin, MPsi, FIAS Psikolog Seksual